LOGO GUNADARMA

Jumat, 15 Maret 2019

STRUKTUR PERENCANAAN JEMBATAN

STRUKTUR PERENCANAAN JEMBATAN

Definisi Jembatan Jembatan merupakan salah satu bentuk konstruksi yang berfungsi meneruskan jalan melalui suatu rintangan. Seperti sungai, lembah dan lain-lain sehingga lalu lintas jalan tidak terputus olehnya. Dalam perencanaan konstruksi jembatan dikenal dua bagian yang merupakan satu kesatuan yang utuh yakni :
1. Bangunan Bawah ( Sub Struktur )
2. Bangunan Atas ( Super Struktur )
Bangunan atas terdiri dari lantai kendaraan, trotoar, tiang-tiang sandaran dan gelagar. Bangunan bawah terdiri dari pondasi, abutmen, pilar jembatan dan lain-lain.

A. Syarat dan bentuk jembatan
Pemilihan bentuk jembatan sangat dipengaruhi oleh kondisi dari lokasi jembatan tersebut. Pemilihan lokasi tergantung medan dari suatu daerah dan tentunya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di daerah dengan kata lain bentuk dari konstruksi jembatan harus layak dan ekonomis. Perencanaan konstruksi jembatan berkaitan dengan letaknya. Oleh beberapa ahli menentukan syarat-syarat untuk acuan dari suatu perencanaan jembatan sebagai berikut :
1. Letaknya dipilih sedemikian rupa dari lebar pengaliran agar bentang bersih jembatan tidak terlalu panjang.
2. Kondisi dan parameter tanah dari lapisan tanah dasar hendaknya memungkinkan perencanaan struktur pondasi lebih efesien.
3. Penggerusan ( scow-ing ) pada penampang sungai hendaknya dapat diantisipasi sebelumnya dengan baik agar profil saluran di daerah jembatan dapat teratur dan panjang.
Dari syarat-syarat tersebut diatas telah dijelaskan bahwa pemilihan penepatan jembatan merupakan salah satu dari rangkaian system perencanaan konstruksi jembatan yang baik, namun demikian aspek–aspek yang lain tetap menjadi bagian yang penting, misalnya saja system perhitungan konstruksi; penggunaan struktur ataupun mengenai system nonteknik seperti obyektifitas pelaksana dalam merealisasikan jembatan tersebut.

B. Peraturan-peraturan dalam Perencanaan Jembatan Dalam merencanakan dan melaksanakan pekerjaan proyek konstruksi jembatan terdapat beberapa aturan yanng menjadi acuan yang bertujuan agar pekerjaan konstruksi yang dilakukan sesuai dengan standar keselamatan yang ada. acuan tersebut antara lain;
1. SE M PUPR 2015, Pedoman Umum Perencanaan Jembatan
2. SNI 03-1725-1989, Pedoman Perencenaan Pembebanan Jembatan Jalan Raya
3. SNI 2838-2008, Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Jembatan
4. SNI 03-2850-1992, Tata Cara Pemasangan Utilitas di Jalan
5. RSNI T-02-2005, Standar Pembebanan untuk Jembatan
6. RSNI T-03-2005, Standar Perencanaan Struktur Baja untuk Jembatan
7. RSNI T-12-2004, Standar Perencanaan Struktur Beton untuk Jembatan
8. Pd-T-13-2004-B, Pedoman Penempatan Utilitas pada Daerah Milik Jalan
9. SNI-1725-2016, Pedoman Pembebanan Jembatan
10. Peraturan Perencanaan Jembatan, Bagian 2, BSM, 1992.

 C. Bagian-bagian konstruksi jembatan
 

D.  Bentuk-bentuk Jembatan :
• Jembatan kerangka Merupakan jembatan yang konsepnya hampir sama dengan jembatan lengkung disebut juga sebagai truss bridge. Pembuatan jembatan kerangka yaitu dengan menyusun tiang-tiang jembatan membentuk kisi-kisi agar setiap tiang hanya menampung sebagian berat struktur jembatan tersebut. Membutuhkan biaya yang lebih murah untuk membangun jembatan jenis ini karena penggunaan bahan yang lebih efisien.
Pada gambar berikut ditunjukkan beberapa jenis jembatan kerangka yang biasa digunakan:




 • Jembatan gantung Jembatan gantung atau dikenal sebagai Suspension Bridge merupakan digantungkan dengan menggunakan tali untuk jembatan gantung yang sangat sederhana dan kabel baja pada jembatan gantung besar. Pada jembatan gantung modern, kabel menggantung dari menara jembatan kemudian melekat pada caisson (alat berbentuk peti terbalik yang digunakan untuk menambatkan kabel di dalam air) atau cofferdam (ruangan di air yang dikeringkan untuk pembangunan dasar jembatan). Caisson atau cofferdam akan ditanamkan jauh ke dalam lantai danau atau sungai. Jembatan gantung terpanjang di dunia saat ini adalah Jembatan Akashi Kaikyo di Jepang. Jembatan ini memiliki panjang 12.826 kaki (3.909 m).
Pada gambar berikut ditunjukkan konsep jembatan gantung:


• Jembatan penyangga
Jembatan penyangga atau dikenal sebagai cantilever bridge merupakan jembatan balok disangga oleh tiang penopang dikedua pangkalnya, maka jembatan penyangga hanya ditopang di salah satu pangkalnya. Jembatan penyangga biasanya digunakan untuk mengatasi masalah pembuatan jembatan apabila keadaan tidak memungkinkan untuk menahan beban jembatan dari bawah sewaktu proses pembuatan. Kelebihan jembatan jenis ini adalah tidak mudah bergoyang. Tidak heran mengapa banyak jembatan rel kereta api menggunakan jenis ini.


• Jembatan busur Merupakan jembatan yang sudah dikenal zaman romawi yang dibangun dengan susunan batu yang diatur sedemikian sehinga beban lalu lintas maupun jembatan itu sendiri yang dipikul pada jembatan didistribusikan dengan baik pada kedua sisi abatemen jembatan, untuk jembatan yang panjang digunakan lebih dari dua busur. Konsep ini kemudian dikembangkan pada pembangunan jembatan modern dengan menggunakan rangka baja ataupun dari beton. Jembatan seperti ini banyak digunakan di Indonesia, baik pada jembatan jalan, maupun pada jembatan kereta api. Berdasarkan letak lantai yang digunakanan untuk lalu lintas kendaraannya serta bentuk busur, maka beberapa bentuk jenis yang umum dipakai, yaitu :
1. Deck Arch, merupakan salah satu jenis/bentuk jembatan busur dimana letak lantainya menopang beban lalu lintas secara langsung dan berada pada bagian paling atas busur, yang mengambil bentuk seperti konsep awalnya.
2. Through Arch, merupakan jenis jembatan busur yang lain dimana letak lantainya berada tepat di springline busurnya, jembatan seperti ini biasanya dibangun dengan menggunakan bahan baja,
3. A Half – Through Arch, Salah satu jenis jembatan busur dimana lantainya kendaraannya berada di antara springline dan bagian busur jembatan, atau berada di tengah-tengah. Jembatan seperti ini biasanya digunakan untuk bentang yang panjang.
Bentuk-bentuk jembatan busur :

E. Pembebanan yang Bekerja Pada Jembatan Dalam perencanaan struktur jemabatan secara umum hal yang perlu sekali diperhatikan adalah masalah pembebanan yang akan bekerja pada struktur jembatan yang dibuat. Ada beberapa macam pembebanan yang bekerja pada struktur jembatan, yaitu: 1. Beban Primer Beban primer merupakan beban utama dalam perhitungan tegangan pada setiap perencanaan jembatan, yang terdiri dari: beban mati, beban hidup, beban kejut dan gaya akibat tekanan tanah.
2. Beban Sekunder Beban sekunder adalah beban yang merupakan beban sementara yang selalu diperhitungkan dalam penghitungan tegangan pada setiap perencanaan jembatan. Beban sekunder terdiri dari:
a. Beban angin
b. Gaya akibat perbedaan suhu
c. Gaya rangkak dan susut
d. Gaya rem dan traksi
f. Gaya akibat gempa
g. Gaya gesejab pada tumpuan bergerak

3. Beban Khusus Beban khusus yaitu beban-beban yang khususnya bekerja atau berpengaruh terhadap suatu struktur jembatan. Misalnya: gaya sentirfugal, gaya gesekan pada tumpuan, beban selama pelaksanaan pekerjaan struktur jembatan, gaya akibat tumbukan benda-benda yang hanyut dibawa oleh aliran sungai.

Nama : Alma Listi Prasetya
Npm   : 10316626
Kelas  : 3TA03
Nama Dosen : I Kadek Bagus Widana Putra

https://ftsp.gunadarma.ac.id/sipil/
https://www.gunadarma.ac.id

Jumat, 09 November 2018

JURNAL Dampak Rencana Akses Jalan Tol Pandaan-Malang Terhadap Jalan Asrikaton, Ampeldento, Sekarpuro dan Ki Ageng Gribig

Perbedaan antara makalah, skripsi dan jurnal

Apasih perbedaan antara makalah, skripsi dan jurnal?

1.      Makalah adalah karya tulis ilmiah yang menyajikan suatu masalah yang pembahasannya berdasarkan data di lapangan yang bersifat empiris-objektif. Makalah menyajikan masalah dengan melalui proses berpikir deduktif atau induktif. Makalah disusun, biasanya untuk melengkapi tugas-tugas ujian mata kuliah tertentu atau untuk memberikan saran pemecahan tentang suatu masalah secara ilmiah. Makalah menggunakan bahasa yang lugas dan tegas. Jika dilihat bentuknya, makalah adalah bentuk yang paling sederhana di antara karya tulis ilmiah yang lain. Di samping itu, makalah dapat merupakan karya tulis tentang suatu pokok persoalan yang tujuan utamanya untukditerbitkan dalam suatu majalah (Arifin, 1987).

2.      Skripsi adalah tulisan ilmiah untuk mendapatkan gelar akademik sarjana strata satu (S1) (Indriati, 2001). Skripsi mengemukakan pendapat penulis berdasarkan pendapat orang lain. Pendapat yang diajukan harus didukung oleh data dan fakta empiris-objektif, baik berdasarkan penelitian langsung (observasi lapangan) maupun penelitian tidak langsung (studi kepustakaan). Skripsi ditulis biasanya, untuk melengkapi syarat guna memperoleh gelar sarjana muda/diploma atau sarjana dan penyusunannya dibimbing oleh seorang dosen atau tim yang ditunjuk oleh suatu lembaga pendidikan tinggi. Dengan demikian, data atau fakta boleh didasarkan pada pengalaman empiris, hasil kerja lapangan (field work) atau diperoleh dari data kepustakaan (Arifin, 1987).


3.      Jurnal merupakan hasil penelitian yang hanya diambil bagian-bagian pentingnya saja. Jurnal penelitiannya bisa dilakukan lebih dari satu orang, sedangkan skripsi hanya untuk satu orang. Skripsi penulisannya terbagi dalam beberapa bab, sedangkan jurnal penulisannya tidak memakai bab-bab. Pada jurnal tinjauan pustaka tidak dimuat dalam bab tersendiri, dan latar belakangnya hanya yang terpenting yang dimuat. Pada jurnal, gambar-gambarnya langsung dilampirkan sesuai data.

Makalah Dampak Rencana Akses Jalan Tol Pandaan-Malang Terhadap Jalan Asrikaton, Ampeldento, Sekarpuro dan Ki Ageng Gribig.

PENULISAN DAN PRESENTASI
DAMPAK RENCANA AKSES JALAN TOL PANDAAN-MALANG TERHADAP JALAN ASRIKATON, AMPELDENTO, SEKARPURO DAN KI AGENG GRIBIG

Image result for logo gunadarma

NAMA       : ALMA LISTI PRASETYA
KELAS       : 3TA03
NPM           : 10316626

UNIVERSITAS GUNADARMA
2018


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang hingga saat ini masih memberikan kita nikmat iman dan kesehatan, sehingga saya diberi kesempatan yang luar biasa ini yaitu kesempatan untuk menyelesaikan tugas penulisan makalah tentang “Dampak Rencana Akses Jalan Tol Pandaan-Malang Terhadap Jalan Asrikaton, Ampeldento, Sekarpuro dan Ki Ageng Gribig.”
Shalawat serta salam tidak lupa selalu kita haturkan untuk junjungan nabi agung kita, yaitu Nabi Muhammad SAW yang telah menyampaikan petunjukan Allah SWT untuk kita semua, yang merupakan sebuah pentunjuk yang paling benar yakni Syariah agama Islam yang sempurna dan merupakan satu-satunya karunia paling besar bagi seluruh alam semesta.Sekaligus pula kami menyampaikan rasa terimakasih yang sebanyak-banyaknya untuk Ibu Diyanti selaku dosen mata kuliah Teknik Sipil Universitas Gunadarma yang telah menyerahkan kepercayaannya kepada saya guna menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Kami juga berharap dengan sungguh-sungguh supaya makalah ini mampu berguna serta bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan tentang Dampak Rencana Akses Jalan Tol Pandaan-Malang Terhadap Jalan Asrikaton, Ampeldento, Sekarpuro dan Ki Ageng Gribig.
Saya sadar bahwa pada makalah kami ini dapat ditemukan banyak sekali kekurangan serta jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu, kami benar-benar menanti kritik dan saran untuk kemudian dapat saya revisi dan saya tulis di masa yang selanjutnya, sebab sekali kali lagi saya menyadari bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa disertai saran yang konstruktif.
Di akhir saya berharap makalah sederhana saya ini dapat dimengerti oleh setiap pihak yang membaca. Saya pun memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila dalam makalah saya terdapat perkataan yang tidak berkenan di hati.








DAFTAR ISI


COVER……………………………………………………………………………………….1
KATA PENGANTAR………………………………………………………………………..2
DAFTAR ISI………………………………………………………………………………….3
BAB 1 PENDAHULUAN……………………………………………………………………4
A.    Latar Belakang………………………………………………………………..4
B.     Rumusan Masalah…………………………………………………………….5
C.     Tujuan Penelitian……………………………………………………………..5

BAB 2 PEMBAHASAN……………………………………………………………………..6
A .Pemodelan Peregrakan Setelah Beroperasinya Jalan Tol Pandaan- Malang…………...........………………………………….............................6
B.     Perbaikan Jaringan Jalan..........……………………………………………..7

BAB 3 PENUTUP…………………………………………………………………………..8
A.    Kesimpulan………………………………………………………………….9
B.     Saran...............................................................................................................9

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………….10









BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kota Malang merupakan kota terpadat kedua di Provinsi Jawa Timur setelah Kota Surabaya. Banyaknya perguruan tinggi di Kota Malang membuat banyak orang datang untuk menimba ilmu disini sehingga dijuluki dengan kota pendidikan. Tidak hanya itu, Malang juga banyak dijadikan sebagai destinasi wisata dikarenakan memiliki banyak tempat wisata yang sangat baik dan menarik untuk dikunjungi. Iklim cuaca yang sejuk juga merupakan salah satu alasan banyak orang yang memilih Kota Malang untuk perantauan, sehingga pertumbuhan penduduk di Kota Malang setiap tahunnya meningkat dan semakin padat. Dengan fakta-fakta yang ada, maka Kota Malang harus mengembangkan sarana dan prasarana yang terintegrasi dengan baik.
Padatnya jumlah penduduk di Kota Malang tidak diiringi dengan sarana prasarana yang memadai. Sarana dan prasarana sendiri memiliki peran penting dalam meningkatkan aspek ekonomi, sosial, budaya dan menghubungkan antar wilayah. Selain itu, sarana prasarana juga berperan meningkatkan jaringan transportasi, komunikasi, dan informatika yang membuat orang, barang, atau jasa bergerak dari satu tempat ketempat lain dan pertukaran informasi secara cepat. Sarana transportasi sendiri memiliki fungsi yang sangat penting dalam kemajuan suatu daerah sebagai alat penghubung bagi masyarakat atau penduduk dalam memenuhi kebutuhan, sehingga segala kegiatan, seperti pertanian, perindustrian, dan perekonomian berjalan dengan lancar.
Pemerintah Indonesia hingga saat ini terus melaksanakan Pembangunan Nasional. Salah satu fokus pada saat ini adalah penyediaan sarana prasarana jaringan transportasi, diantaranya adalah pembangunan Jalan Tol. Jalan Tol sangat penting bagi masyarakat dalam bidang perhubungan sehingga dapat membantu masyarakat agar lebih mudah dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Diantaranya adalah pembangunan Jalan Tol untuk menghubungkan Kota Malang dengan Kota Surabaya yaitu Jalan Tol Pandaan-Malang. Dengan adanya akses Jalan Tol Pandaan-Malang akan merubah status beberapa ruas jalan yang berada di Kota Malang yang bermula berstatus jalan kota akan berubah menjadi jalan provinsi atau jalan nasional, karena jalan yang digunakan untuk melakukan kegiatan transportasi dengan menggunakan kendaraan berat seharusnya berstatus sebagai jalan tersebut dan saat ini jalur yang di lalui oleh truk di kota Malang diantaranya adalah Jalan Ahmad Yani Utara - Jalan Raden Intan - Jalan Panji Suroso - Jalan Sunandar Priyo Sudarmo yang merupakan jalan nasional. Setelah adanya akses jalan tol Pandaan-Malang, jalur yang akan di lalui truk nantinya akan di alihkan ke Jalan Laksana Adi Sucipto – Jalan Raya Wendit Barat – Jalan Raya Bugis – Jalan Raya Asrikaton – Jalan Raya Ampeldento – Jalan Raya Sekarpuro – Jalan Raya Ki Ageng Gribig, sehingga beban lalu lintas yang melewati ruas jalan tersebut akan berubah. Akibat pengalihan jalur tersebut maka, status jalan kota dan kabupaten ini mengalami perubahan menjadi status jalan nasional atau jalan provinsi dan mengakibatkan beberapa dampak lalu lintas.
Jalan Tol Pandaan-Malang merupakan kelanjutan dari Jalan Tol Gempol-Pandaan yang direncanakan memiliki panjang 37,6 km dan melintasi tiga wilayah, yakni Pasuruan, Kota malang dan Kabupaten Malang (Surat Keputusan Gubernur Jawa Timur tanggal 7 Juni 2011, Nomor: 188/282/KPTS/013/2011). Salah satu akses Jalan Tol Pandaan-Malang yang di rencanakan akan berada di Jalan Ki Ageng Gribig dan terhubung dengan Jalan Raya Bugis, Jalan Raya Wendit Barat, dan Jalan Laksana Adi Sucipto, status masing-masing jalan tersebut adalah jalan kota dan jalan kabupaten. Jalan Tol ini juga sangat penting bagi masyarakat dalam bidang perhubungan sehingga dapat membantu masyarakat agar lebih mudah dalam melakukan kegiatan transportasi dari/ke kota Malang dan Surabaya.

1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka dapat disimpulkan yaitu bagaimana perubahaan status beberapa ruas jalan yang berada di kota malang dari jalan kotan menjadi jalan provinsi?
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah, tujuan makalah ini, yaitu:
1.        Mengetahui kinerja lalu lintas saat ini di Jalan Raya Asrikaton – Jalan Raya Ki Ageng Gribig. Sebelum adanya pembangunan Jalan Tol Pandaan-Malang?
2.        Melakukan analisis kinerja lalu lintas yang ditimbulkan akibat pembangunan Jalan Tol Pandaan-Malang?
3.        Memberi rekomendasi penanganan untuk mengurangi Dampak Rencana Akses Jalan Tol Terhadap Ruas Jalan Asrikaton-Ki Ageng Gribig?

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Pemodelan Pergerakan Setelah Beroperasina Jalan Tol Pandaan-Malang
Kinerja lalu lintas tiap jaringan jalan setelah beroperasinya jalan Tol Pandaan-Malang didapatkan dari hasil penjumlahan kondisi eksisting dan model bangkitan dan tarikan setelah dikalikan dengan prosentase pembebanan jaringan jalan. Dalam pemodelan pergerakan lalu lintas yang terjadi setelah beroperasinya jalan Tol Pandaan-Malang, penulis terlebih dahulu melakukan survai asal tujuan yang dilaksanakan pada hari Selasa - Rabu, 26-27 Juni 2018 di daerah Randu Agung. Berikut hasil survai kendaraan berat yang di laksanakan.
Tabel Survai Asal-Tujuan Kendaraat Berat
Asal/Tujuan
Prosentase


Dari/ke Malang Kota menggunakan jalan tol
43%


Dari/ke Malang Kabupaten menggunakan jalan tol
6%


Dari/ke Malang Kota menggunakan jalan non tol
28%


Dari/ke Malang Kabupaten menggunakan jalan non tol
24%














2.2 Perbaikan Jaringan Jalan
Rekapitulasi Perbandingan Analisis Kinerja Lalu Lintas Antara Kondisi Setelah Beroperasinya Jalan Tol Pandaan-Malang Baik Sebelum Perbaikan dan Sesudah Perbaikan dan Kondisi Lima Tahun Mendatang Baik Sebelum Perbaikan dan Sesudah Perbaikan. Perbaikan yang dilakukan berupa pelebaran dan menajeman lalu lintas pada ruas dan simpang jalan yang distudi.

Nama Jaringan Jalan
Setelah Beroperasinya Jalan Tol Pandaan-Malang
Kondisi Lima Tahun Mendatang
Sebelum Perbaikan
Sesudah Perbaikan
Sebelum Perbaikan
Sesudah Perbaikan
Pertigaan Bandaraan ABD. Salah
C
B
B
B
Ruas Jl. Raya Asrikaton
C
C
C
C
Perempatan Ampeldento
F
D
F
C
Ruas Jl. Raya Ampeldento
C
C
C
C
Pertigaan Wisnuwardhana
C
B
B
B
Ruas Jalan Sekarpuro
D
C
C
C
Pertigaan Modyopuro
F
C
D
C

Sumber : Hasil Analisis







BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1.        Kinerja lalu lintas eksisting diantaranya adalah Ruas Jalan Raya Asrikaton pada jam puncak hari Senin pagi dengan DS sebesar 0.5896, Ruas Jalan Raya Ampeldento pada jam puncak hari Sabtu sore sebesar 0.6144 dan Ruas Jalan Raya Sekarpuro pada jam puncak hari Sabtu sore sebesar 0.7999. Ketiganya memiliki tingkat pelayanan kondisi C. Persimpangan Tidak Bersinyal Bandara Abdurahman Saleh pada jam puncak hari Sabtu sore dengan DS sebesar 0.925 dan tundaan simpang rata-rata 16.32 det/smp dengan tingkat pelayanan kondisi C, tundaan simpang rata-rata Simpang Tidak Bersinyal Ampeldento pada jam puncak hari Senin pagi >45 det/smp dalam kondisi tingkat pelayanan F dengan DS>1. Pada Simpang Tidak Bersinyal Wisnuwardhana untuk jam puncak hari Sabtu sore memiliki DS sebesar 0.983 serta tundaan rata-rata simpang sebesar 18.29 det/smp dengan tingkat pelayanannya C. Dan untuk Simpang Tidak Bersinyal Madyopuro pada jam puncak hari Senin pagi memiliki DS > 1 dan tundaan rata-rata >45 det/smp sehingga memiliki tingkat pelayanan F.

2.        Penulis menggunakan pemodelan bangkitan dan tarikan berdasarkan Prediksi kendaraan berat menggunakan jalan tol Pandaan-malang sebesar 30% dari kendaraan berat yang melintas pada jaringan jalan yang di tinjau. Bangkitan yang di peroleh dari pemodelan adalah sebesar 24 % dari jumlah kendaraan berat yang melintas dan tarikan yang di peroleh sebesar 6% dari jumlah kendaraan berat yang melintas. Dengan adanya pembangunan Jalan Tol Pandaan-Malang sehingga memberikan dampak perubahan terhadap daerah sekitarnya terutama pada Ruas Jalan Raya Asrikaton, Ruas Jalan Raya Ampeldento, Ruas Jalan Raya Sekarpuro dan Ruas Jalan Raya Ki Ageng Gribig. Perubahan signifikan yang terjadi adalah menurunnya tingkat pelayanan jaringan ruas jalan tersebut. Hal ini dapat dilihat dari nilai DS (Derajat Kejenuhan) dan tundaan rata-rata masing-masing kondisi jaringan jalan. Diantaranya adalah Simpang Ampeldento dan Simpang Madyopuro yang memiliki nilai DS > 1 serta tundaan rata-rata >45 det/smp sehingga memiliki tingkat pelayanan F
3.        Dampak yang ditimbulkan akibat adanya pembangunan Jalan Tol Pandaan-Malang memerlukan beberapa alternatif pemecahan masalah untuk meningkatkan kinerja lalu lintas yaitu :



a.         Manajemen Lalu Lintas

Melihat kondisi Simpang Ampeldento dan Simpang Madyopuro pada kondisi eksisting maupun kondisi setelah beroperasinya Jalan Tol Pandaan-Malang, tingkat kinerja lalu lintas pada kedua simpang tersebut sangat tidak layak sehingga dibutuhkan manajemen lalu lintas yang baru yaitu dengan memberikan lampu lalu lintas pada dua simpang tersebut. Dengan begitu maka Simpang Ampeldento dan Simpang Madyopuro yang awalnya merupakan Simpang Tidak Bersinyal dirubah menjadi Simpang Bersinyal dua fase sehingga dapat meningkatkan tingkat kinerja lalu lintasnya.
b.    Perubahan pada geometrik (pelebaran jalan)

Kondisi jalan yang memerlukan pelebaran jalan diantaranya adalah pada Ruas Jalan Raya Asrikaton, Ruas Jalan Raya Ampeldento dan Ruas Jalan Raya Sekarpuro sebesar 11 m. Untuk Simpang Tidak Bersinyal Bandara Abdul Rachman Saleh dan Simpang Tidak Bersinyal Wisnuwardhana sebesar 11 m. Pada Simpang Tidak Bersinyal Ampeldento mengalami perbaikan pelebaran pada 3 kaki ruas jalan mayor sebesar 16 m dan ruas jalan minor sebesar 6 m, sedangkan untuk Simpang Tidak Bersinyal Madyopuro mengalami pelebaran pada ruas jalan mayor sebesar 16 m.
3.2 Saran

Dari hasil analisis dan kesimpulan yang telah dilakukan pada kajian ini maka saran yang dapat diberikan sebagai berikut :

1.      Bagi instansi terkait dapat memanfaatkan hasil kajian ini untuk mengantisipasi kinerja lalu lintas di sekitar kawasan ruas jalan yang ditinjau mengalami penurunan kualitas sehingga dapat mengganggu pengguna jalan. Hasil perhitungan yang sudah direkomendasikan dapat dijadikan pertimbangan dalam perencanaan sarana dan prasarana transportasi lalu lintas pada masa mendatang khususnya dalam waktu lima tahun mendatang.
2.      Dikarenakan tingkat pelayanan jalan untuk klasifikasi jalan nasional harus memiliki standar minimum dengan nilai B maka diperlukan lagi alternatif perbaikan jalan lagi selain pelebaran jalan dan perubahan simpang tidak bersinyal menjadi simpang bersinyal. Alternatif perbaikan jalan ini nantinya bisa digunakan sebagai pembaharuan untuk studi selanjutnya.








DAFTAR PUSTAKA

Badan  Pusat  Statistik  (2018).  Jumlah  Penduduk Kota Malang:   https://jatim.bps.go.id/ (diakses Juli 2018).
Badan Pusat Statistik (2018). Tingkat Pertumbuhan  Kendaraan      Kota    Malang. Malang: BPS.
Badan  Pusat  Statistik.  (2018).  Produk  Domestik Regional Bruto Kota Malang. Malang: BPS.
Departemen   Pekerjaan   Umum.   (1997).   Manual Kapasitas Jalan Indonesia. Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Marga.
Gubernur  Jawa  Timur.  (2011).  Surat  Keputusan Gubernur Jawa Timur tanggal 7 Juni 2011, Nomor:     188/282/KPTS/013/2011. Surabaya: Gubernur Jawa Timur
Hobbs, F.D, (1995), Perencanaan dan Teknik Lalu Lintas, Penerbit Gadjah Mada University Press
Khristy,  C.   Jhotin,   and   Lall,   B.   Kent  (2003). Dasar-Dasar Rekayasa Transportasi. Bandung : Erlangga.
Morlok, Edward K. (1991). Pengantar Teknik dan Perencanaan Transportasi. Jakarta:
Erlangga
Sugiyono.    (2005).    Metode    Penelitian    Bisnis. Bandung: Alfabeta
Tamin, Ofyar Z. (1997). Perencanaan dan Permodelan Transportasi edisi pertama. Bandung: Penerbit ITB.
Tamin, Ofyar Z. (2000). Perencanaan dan Permodelan Transportasi edisi kedua. Bandung : Penerbit ITB.